BILA CINTA TAK SAMPAI

BILA CINTA TAK SAMPAI
sett dekor luncur BCTS

Jumat, 16 Juli 2010

KLIPING KORAN


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1975/01/11/TER/mbm.19750111.TER66126.id.html

Akhirnya tidak hanya DKJ


10 buah grup teater remaja, yang tahun kemarin sudah rnelaksanakan pementasan-pementasan dalam rangka pembinaan Dewan Kesenian Jakarta. dalam Festival DKJ kemarin ternyata gugur. Hanya empat buah dari 14 grup pernenang tahun lalu yang masih tercantum dalam pengumuman para juri babak final tanggal 31 Desember kemarin ditambah enam buah grup baru. "Memang benar penulihan tahun ini lebih ketat dibanding tahun lampau", demikian Dewan Juri dalam pengantar keputusan mereka. Dari 28 grup yang ikut final - yang diperas dari lebih 130 grup pada waktu seleksi di Gelanggang Gelanggang Remaja - kali ini hanya dimenangkan kurang dari 36%. Bisa dibanding dengan jumlah tahun lalu sebesar lebih dari 58% alias 14 grup dari 24 finalis.


Perihal Kadar Kemajuan. Sebab yang terpenting dari kenyataan itu bisa ditarik dari kadar kemajuan di kalangan potensi-potensi teater remaja sendiri. Pada penyelenggaraan festival yang pertama tahun kemarin, juri-juri maupun Dewan Kesenian Jakarta harus dikatakan belum sepenuhnya berkenalan dengan potensi-potensi tersebut - dan karena itu standar yang mereka berikan masih "sangat toleran". Mereka boleh dibilang hanya menggugurkan grup-grup yang menurut penilaian "memang kelewat buruk" - sambil menyediakan sisanya untuk dilihat, mana di antara mereka yang bisa bertahan tahun depan. Tapi sementara itu rupanya apresiasi teater berkembang dengan kemajuan tertentu di kalangah remaja. Dari luar barisan para pemenang sendiri muncul potensi-potensi yang kernudian ternyata menunjukkan mutu lebih tinggi dibanding grup-grup pemenang. Apa boleh buat: grup-grup juara itupun harus menyingkir, sementara hasil penilaian sendiri - menurut pengakuan para juri lebih bisa rnereka pertanggung jawabkan.


Tapi dapatkah dijamin kesepuluh grup tersebut akan benar-benar muncul lagi dalam deretan para pemenang tahun depan? Sudah tentu tidak. Grup-grup yang kali ini jatuh sendiri itu - lebih-lebih yang tahun lalu berhasil menang dipersilakan bangkit kembali, sementara potensi-potensi yang lain lagi boleh muncul pula. Dan sementara itu bukan tidak terdapat harapan, bahwa empat buah grup yang selama dua kali festival ini tetap tercantum namanya akan bisa selamat lulus pada festival tahun depan - sehingga bisa menambah jumlah dua buah grup senior dari Jakarta yang selama ini tampil di Taman Ismail Marzuki, yakni Teater Kecil Arifin C.Noer dan Tester Mandiri Putu Wijaya. Sebab, seperti dijanjikan oleh fihak Dewan Kesenian Jakarta, bila sebuah grup remaja di Jakarta mampu bertahan melewati ujian festival tiga tahun berturut-turut, ia punya hak untuk dikontrak dan tampil di depan publik pembayar karcis di pusat kesenian itu. Dengan demikian tampaklah, jalan fikiran orang-orang Dewan Kesenian Jakarta sampai sekarang tetap - boleh dibilang - "TIM sentri


"Barangkali saja itu disebabkan oleh kenyataan, bahwa Taman Ismail Marzuki betapapun memang merupakan katalisator - semacam ukuran mutu bagi kehidupan teater di Jakarta maupun, kenyataannya, di seluruh tanah air. Sudah terbukti bahwa wibawa pertunjukan-pertunjukan yang diakui bermutu tersebut mampu menggaet apresiasi bermacam cabang kesenian - termasuk potensi para remaja dalam tester. Namun tempat bagi ukuran mutu katakanlah begitu sudah tentu tidak diharap menjadi satu-satunya tempat di mana orang bisa melihat pertunjukan-pertunjukan yang dianggap bernilai. Sebab di samping TIM, orang boleh menaruh harapan khususnya kepada Gelanggang-Gelanggang Remaja. Karena itulah kepada grup-grup pemenang festival, sejak tahdn lalu Dewan Kesenian Jakarta mewajibkan masing-masing mereka mementaskan dua buah naskah selama setahun di tempat kegiatan muda-mudi tersebut - dengan ketentuan masing-masing naskah dimainkan sedikitnya dua malam. Dengan harapan bahwa mutu di tempat-tempat inipun harus dipelihara - apalagi dengan idam-idaman untuk menjadikan Gelanggang-Gelanggang remaja punya fungsi sebagai pusat-pusat kesenian, yang lain Dewan mengirim orang-orangnya untuk memimpin diskusi dan mengkritik pementasan-pementasan tersebut. Dan bila usaha itu dirasa belum cukup, maka seperti dinyatakan Wahyu Sihombing dari Komite Teater DKJ, tahun ini diharap mulai bisa diselenggarakan kursus-kursus aplikasi teknis maupun workshop teater ini di tempat-tempat kegiatan remaja tersebut.


Potensi yang terserak Yang terakhir itu penting - lebih-lebih bagi grup-grup pemenang yang gugur atau yang selalu gugur. Sebab taroklah grup-grup tersebut belurn cukup representatif dari segi mutu. Namun di sana-sini terbukti sebagian dari mereka sangat produktif sebagai penampungan kegiatan remaja, yang tak jarang melibatkan banyak pejabat dari camat sampai ke lurah-lurah. Sulitnya ialah, sampai di sini orang kadang-kadang harus membedakan antara fungsi grup sebagai penampungan remaja dan fungsinya sebagai pengejar mutu. Misalnya: sebuah grup yang diketahui punya harapan, karena punya anggota yang mungkin dirasa "kelewat banyak" tiba-tiba pecah dua. Dari segi penampungan remaja itu bahkan boleh menguntungkan, selama sarana-sarana yang menunjang kehidupannya tetap ada. Sebaliknya dari segi mutu, orang boleh menyayangkan terpecahnya potensi-potensi yang seharusnya bisa bersama-sama membentuk kesatuan yang tangguh. Apalagi bila grup-grup tersebut ternyata pecah karena misalnya persaingan antar remaja - ataupun oleh sikap untung-untungan untuk bisa bersama-sama masuk final dan lulus. Menjadi jelas bahwa `kesadaran grup', yang justru dipertahankan dan dipupuk oleh grup-grup yang lebih senior, ternyata belum masanya turnbuh di kalangan mereka.


Kenyataan seperti itu terlihat dalam festival kemarin: sebagian grup-grup yang berhal begitu ternyata menunjukan penurunan mutu atau jatuh justru pada babak seleksi. Padahal, sebelum mengingat pemecahan-pemecahan itu sendiri di Gelanggang-Gelanggang Remaja hampir selamanya terlihat beberapa potensi yang terserak-serak di beberapa grup - yang semuanya tidak mencapai mutu yang dikehendaki antara lain karena ada saja halangan mereka untuk bergabung.


Teater Masyarakat. Tetapi jelaslah bahwa, dari segi lain, Dewan Kesenian Jakarta takkan mampu menangani ratusan grup yang tersebar di berbagai pelosok itu. Arti pertama festival adalah justru pada prosesnya sebagai sarana pendewasaan. Dengan itu sebagian grup mungkin akan gugur, bangkit lagi, gugur lagi dan bangkit lagi sekiranya tradisi festival ini tidak mendapat rintangan. Sedang mereka yang berhasil bertahan akan merupakan tenaga-tenaga teater yang cukup sarat pengalaman dan pantas dihormati. Jelas bahwa wibawa festival itu akan - dan sudah - membangunkan gairah dan apresiasi di kalangan remaja. Tetapi dilihat dari dunia remaja sendiri di lapisan yang lebih luas, akhirnya terfikir bahwa tidak selayaknya aktivitas mereka hanya dimulai melulu kepada festival. Sebab bila sebuah grup yang tidak berhasil menang terbukti punya akar yang kuat, dan juga punya publik di samping anggota yang tetap, cukup menjadi problim bagaimana caranya - misalnya agar ia tetap bisa menyelenggarakan pementasan-pementasan di Gelanggang Remaja tanpa mendapat bantuan subsidi dari Dewan Kesenian Jakarta seperti yang diberikan kepada grup-grup juara.


Melihat pengalaman tahun lalu, ada satu-dua grup yang bernasib seperti di atas namun getol mencari uang dengan menawarkan undangan ke sana ke mari untuk mengongkosi pementasannya di Gelanggang. Dengan meminta perhatian fihak Gelanggang Remaja sendiri dan para pamong, siapa tahu kegiatan-kegiatan jenis tersebut bisa lebih produktif. Bila sementara ini lurah-lurah dan bapak-bapak polisi sudah "memelihara" sebagian grup, nyatalah jalan ke arah pembentukan apa yang disebut 'teater masyarakat' atau community theatre itu pada akhirnya mesti difikirkan lepas dari campur tangan langsung Dewan Kesenian Jakarta yang hanya beberapa gelintir orang itu. Termasuk ke dalamnya - sudah tentu kalau semuanya jadi - rencana pemerintah DKI untuk membangun dan menghidupkan bagi rakyat di kecamatan-kecamatan.

Majalah Berita Mingguan

11 Januari 1975
Kiriman Koleksi : Odi Shalahuddin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar