BILA CINTA TAK SAMPAI

BILA CINTA TAK SAMPAI
sett dekor luncur BCTS

Minggu, 04 Juli 2010

APA YANG BISA KUPERSEMBAHKAN KEPADAMU 07 Desember 2009 jam 10:52 |




UNTUK SEMUA TEATERAWAN
DI INDONESIA

Assalamualaikum wr wb
Salam budaya
Salam teater

Inilah, aku, sutrano sk
Aku lahir di Jakarta tahun 1952 bulan 02 tanggal 22, anak ke dari 4 bersaudara. Ibuku ada. Bapakku almarhum tahun 1962. Di usiaku 22 tahun, aku mendapat kesempatan kepercayaan dari pimpinan dan Pembina serta fasilitator Teater Kail sebagai sutradara.

Di usia ke 22 tahun. Aku mulai mengikut sertakan Teater Kail dalam acara Festival Teater Remaja ke 2. Pada waktu itu Bapak Wahyu Sihombing sebagai Penggagas Festival teater di Jakarta berharap Festival ini mampu menggerakkan motor teater di Jakarta, dapat mengembang dan laju jalannya, mendampingi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta sebagai Produser seniman dan karyanya. Maka perlu dilakukan pembinaan juga. Maka pula, Teater Kail yang muda itu berhasil menjadi satu diantara sepuluh grup teater finalis yang dibina.

Di usia ke 23 tahun. Aku kembali bersama kawan Teater Kail, berhasil membawa Medali Sutradara Terbaik I, Penata Artistik, Aktor serta Aktris dan Grup Terbaik II membawakan Sang Pangeran naskah Arswendo Atmowiloto, naskah pemenang Lomba Naskah Teater yang juga diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Naskah-naskah hasil Lomba Naskah ini menjadi naskah wajib finalis. Di final yang terkumpul 25 grup, bisa jadi bersamaan naskah yang dibawakan. Walhasil, kelihatan sekali, cara bedah naskah sutradara-sutradara itu. Ada yang inteletual, yang kampungan, yang naïf, yang sombong, yang norak, yang sarat symbol, yang vulgar dan sebagainya buat satu judul naskah saja. Mungkin penilaian penjurian belum mengarah kepada ‘menikmati’ pertunjukan teater. Baru kepada ‘sudah baguslah’…

Di usia ke 24 tahun. Festival sempat tersendat. Sama seperti sekarang ini, tergantung dari Kasir Negara. Hingga Final biasanya dilaksanakan di akhir tahun, diundur hingga awal 1977. Kembali kami, Teater Kail, berbahagia. Medali yang tergantung di leher kami, Aktor, Aktris, Tata Artistik, Kelompok, Grup Terbaik I, dan saya pribadi tidak mendapat medali sebagai Sutradara . Namun gebyar sudah digebyarkan. Teater Kail bersiram Emas, dan sesuai janji, Teater Kail dinobatkan sebagai Teater Senior, mengikuti jejak Teater Remaja Jakarta kelompok teaternya Aktor Deddy Mizwar, Sutradara Aldisar Syafar dari Jakarta Pusat, Teater Ibukota, kelompok teaternya Almarhum Sutradara Abdi Wiyono, Sutradara Dubbing/Aktor Abud, dari Jakarta Barat (katakanlah sebuah KELULUSAN) Festival Teater Remaja I, dan Teater Kail di FTR II

Di usia ke 25 tahun. Saya Pribadi mendapat penghargaan dari SAIF, sebuah lembaga persahabatan amerika dan Indonesia, yang memberikan penghargaaan bagi seniman-seniman muda di ASIA, yang 3 tahun berturut-turut jatuh di Indonesia, Rudolf Puspa tahun 1976 dari Teater Keliling, tahun 1977 saya dan Wiwiek Sipala mahasiswa tari dari IKJ, 1978 Syarifuddin Ach Pimpinan Teater Gelanggang Remaja Jakarta Timur, dan Dede Supria Pelukis, setelah itu tidak ada lagi kedengaran. Mungkin jatuhnya bintang itu di wilayah lain. Salah satu penilaiannya mungkin karena saya mampu berturut-turut mempertahankan pemain-pemain Teater Kail.


Dalam perenungan saya berikutnya, ternyata Tak Cukup Sedih, jika kita tak punya fasilitas kasat mata, mungkin bisa diganti dengan Kharisma Kepemimpinan, bagaimana anggota kita mau ‘berbakti’ kepada kelompoknya. La Tahzan, jika kurang modal, Berangkat Dari Yang Ada /putu wijaya , SAMMA/nani tandjung, dengan yang lain, tak perlu menangis (sendiri), maka marilah menangis ramai-ramai hingga air mata kita menggenang menenggelamkan diri kita sendiri dan bercuci membersihkan diri kita sendiri.

Lalu, saya Sutarno sk, mewakili Teater Kail yang sudah sepuh berpenyakit, (mungkin sebentar lagi menyusul saudara-saudara yang lebih tua dan yang lebih muda dari Teater Kail, kelompok teater lain yang KELULUSAN FTR dan FTJ yang sudah MATI SURI) mengucapkan TERIMA KASIH atas support bagi Teater Kail, dan maaf lahir batin.

Maaf, saya sengaja mencantumkan usia saya. Ini adalah sekedar menjadi pemicu dan pembanding. Usia yang masih mentah. Sama dengan pemain Teater Kail, yang mentah-mentah, yang untuk membahas sebuah naskah caliber internasional, betul-betul sulit. Tapi kami telah mematri imajinasi wajah kami di hati penikmat teater di tahun itu hingga SEKARANG masih membekas di hati mereka.

Belakangan ini Teater Kail keliling ngamen monolog dan berpuisi, sambil mencari hidup dan mengamati kembang kuncupnya teater di daerah yang jauh dari Ibukota Negara, selain berturut-turut tahun menjadi Juri di babak Penyisihan Festival Teater Remaja/ Jakarta. Kami menyaksikan dan menyimpulkan sedikit, a.l mengapa Teater Di Tinggalkan Penonton (baca : ummat). Ini terletak dari Kepemimpinan/Penyutradaraan/Pencipta/ Sadar Lingkungan.

Alinea itu pula, yang membuat saya nekad mengundang 20 orang seniman teater/sutradara muda, yang akan saya mulai dari kota Bekasi, lingkungan dekat TeaterKail, di hari ini 7 Desember 2009 pukul 14.00 di tempat kami bernaung, Kampung Baru Kampung Nangka, Jl. Tegal Perintis Bekasi Utara untuk share, berbagi pengalaman dari Bangun jatuhnya Teater Kail.

Terakhir, Teater Kail mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh teman-teman yang pernah bergabung, menolong, membantu, kelangsungan hidup Teater Kail, di mana pun berada yang telah mau : Menjadi Pemimpin, Sutradara, Pemain, Pekerja, Penonton,Panitia, Donatur, Sponsor, juga Wartawan/Penulis/Penerbit yang ikut membesarkan Teater Kail.
Memohon maaf, atas semua kesalahan saya sebagai sutradara/guru/pemimpin/Imam

Ada satu hal lagi tentang keberhasilan Teater Kail, saya sebagai Sutradara, TIDAK BANYAK berpikir tentang ekonomi, sandang pangan dan papan buat saya waktu itu, karena Pimpinan/Pembina/ Fasilitator Teater Kail, Bapak Suyitno Hs, sangat merangkul saya dan semua anggota Teater Kail dengan kasih sayangnya. Suyitno Hs adalah Paklik kandung saya (salam hormat Paklik)


Apapun, ini harus diungkapkan dengan jujur bahwa kita bersandiwara.
Bekasi, 7 Desember 2009
Sutarno SK
Pimpinan/Sutradara Teater Kail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar