BILA CINTA TAK SAMPAI

BILA CINTA TAK SAMPAI
sett dekor luncur BCTS

Rabu, 15 Agustus 2012

Kebebasan Ekspresi Seniman Fotografi




Sunday, 12 August 2012
Teater Kail dan komunitas fotografi menggelar pameran foto bertajuk Baca Merah Putih di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM).


Beragam karya fotografi dengan ragam konsep yang berbedajadipenghiasdinding ruang pamer dengan berbagai tema yang menandai kebebasan ekspresi dari fotografer.

Seorang laki-laki tampak asyik memainkan sebuah biola di saung tepi hutan. Siluet cahaya menerangi dari balik rimbun pepohonan. Dawai-dawai terus ia mainkan dengan pantulan cahaya yang indah menerpa pepohonan di sekitarnya. Momentum ini didokumentasikan dengan konsep black and white dari foto yang dicetak di atas kanvas. Dawai-dawai Cahaya karya fotografer Arik S Wartono dari Sanggar Daun Surabaya, menjadi salah satu dari puluhan karya menarik fotografer lainnya.

Tak hanya Arik S Wartono, dalam pameran Baca Merah Putih yang digelar 9–12 Agustus 2012 ini, konsep foto-foto lain juga jadi daya tarik tersendiri. Olah digital dari karya Lateef Haq misalnya. Karya ini mencuri perhatian dengan konsep foto yang menarik dan “berbicara”. Ia mengolah hasil jepretannya dari objek kepala lelaki yang penuh dengan serbuk putihdiwajahnya.Lalu,iamenggabungkan kepala-kepalatersebut sedemikian rupa hingga seperti gerakan continous yang melukiskan sebuah pemberontakan atas ide atau barangkali pemberontakan untuk menuju kebebasan yang lebih hakiki atas kehidupan dirinya.

Foto-foto ini ditampilkan dalam tema bertajuk kebebasan. Pameran ini diharapkan bisa menjadi sebuah refleksi atau masukan untuk warga Jakarta keseluruhan dan tentunya para pengambil kebijakan untuk lebih memperhatikan, apa yang saat ini tengah terjadi dalam kegelisahan masyarakatnya.Dengan Baca Merah Putih, setiap fotografer dan penyair diberikan “kebebasan” untuk menangkap makna kemerdekaan itu sendiri dari berbagai sisi.

Baca Merah Putih menawarkan pengertian untuk lebih memperhatikan keadaan sekelilingnya yang merujuk kepada warna-warni negeri tercinta Indonesia, khususnya Jakarta, ibu kota negara.Semuanya hanya ingin memberikan sesuatu yang berguna kepada masyarakat di Jakarta.Minimal,sebagai me-diator dari masyarakatnya ke masyarakatnya. Pilihan untuk memamerkan karya-karya seni foto yang dirangkai ini juga untuk menyampaikan pandangan pribadi dari para fotografer terhadap perkembangan Indonesia.

Pameran dianggap bisa memberikan pandangan lain secara menyeluruh dibandingkan sebuah foto yang berdiri sendiri. Fragmen gambar sosialhingga tragedi kemanusiaan tak lepas diangkat dalam pameran ini.Tak hanya murni fotografi, beberapa karya juga mengonsep karyanya dengan mixmedia lain, seperti karya Ari Santoso berjudul Indonesiaku Sekarat. Karya Ari menggabungkan antara seni fotografi, olah digital., dan patung dalam satu tatanan konsep yang spesial. ● sofian dwi 

Copy dari Google > Harian Seputar Indonesia   (foto dokumentasi Teater Kail)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar