Ya sudahlah, kalau memang isi dunia ini bermacam ragam. Ketika dua himpunan yakni Siang dan Malam akan dibiarkan begitu saja terduduk, mungkin saja akan lebih condong pada kepastian, bahwa akan ada susulan pertanyaan tentang waktu yang lebih otentik, tepatnya kapan dan lain sebagainya.Malam jam berapa, waktu itu terang atau mendung, pukul berapa lewat berapa, dan sebagainya.
Isi dunia memang tidak satu warna, bukan satu bentuk, tak pula mati. Selalu bergerak, saling mempengaruhi, termasuk kekuatan pikiran seseorang mampu menjajah pikiran manusia lain dan dengan berani memajukan hasil-hasil pikiran dan pembuktian-pembuktian yang mendukung pikiran utamanya. Itu pun, tidak mati. Dari sana akan muncul lagi persetujuan yang meyakinkan dengan bukti-bukti pula. Tak kurang, perlawanan yang menolak argumentasi pun bertabrakan.
Seorang Kak Seto tentu juga punya lawan jika berbicara tentang perkembangan jiwa anak. Kubu-kubu saling mempengaruhi dan menolak tentang bagaimana menghadapi anak. Ada pendapat, orang tua harus menjaga ketat anaknya, tetapi ada juga yang membiarkan anak mengembangkan kepribadiannya. Ada yang bersikap halus lembut dan ada juga yang sangat tegas. Kesemuanya tentu akan menghasilkan karakter yang beragam pada anak-anak se-generasi. Persoalannya, sikap yang bagaimanakah yang betul, yang baik yang pantas diberikan kepada anak, agar terbentuk karakter generasi penerus bangsa yang kuat.
Ayah lebih suka membiarkan anaknya bergerak bebas, akan membiarkan anaknya membongkar apa saja, dan menjadi pengetahuan bagi sang anak. Sedangkan Ibu lebih memilih anak digendong dalam kain gendongan agar tidak berlarian mengacak-acak tombol listrik, tak menghunus pisau dan lainnya. Tentu saja antara Ayah dan Ibu selalu terjadi perdebatan dengan masing-masing argumentasi.
Menurut Ayah, saat anak jatuh dari anak tangga yang tinggi adalah sebuah pelajaran sedangkan menurut Ibu, itu adalah sebuah kecelakaan yang membahayakan. Ayah akan memuji anak yang tercelakakan, Ibu mengutuknya. Ibu hanya mau memuji anak yang kalem, penurut, tidak melawan, Ayah menyayangkan sikap 'apatis' dari anak yang menurut Ibu adalah kesabaran.
Kesalahan yang menurut Ibu adalah sebagai kerugian, buat Ayah kerugian itu memang harus dikeluarkan sebagai modal pengembangan ilmu. Siapakah yang benar jika kita harus menilai?
Pikiran-pikiran ini datang setelah menyaksikan pertunjukan teater dari beberapa mahasiswa di sebuah kampus. Hal ini sebenarnya juga bukanlah hal yang baru. Kita atau kami, telah beberapa kali menyaksikan hal serupa. Saat bercengkrama bersama seniman tua dan agak tua, kami setuju mengatakan dengan desis, bahwa itu adalah nomer-nomer latihan awal kami dahulu, dan kami tak pernah mengatakan bahwa nomer-nomer itu pernah ksmi tampilkan sebagai nomer pertunjukan juga, layaknya seperti yang baru saja kami tonton. Kami lupa kalau kami pernah melakukan pentas serupa. dan bangga pula pada waktu itu. Kami sebut pentas kami itu adalah hasil Improvisasi. Sebuah pentas dadakan atas undangan panitia acara, entah di mana saja. Itu memang pentas 'latihan pentas'.
Kami berdebat tentang perlunya atau kesia-siaannya sebuah pentas semacam itu. Pentas teater yang mentah, yang setengah matang, yang belum matang benar, yang matang dan matang sekali, bahkan pentas "kematengan" pun dibicarakan di ruang publik tempat angkringan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar