
Pernah saya mengajukan harapan, kapankah orang-orang Indonesia membutuhkan teater sama dengan kebutuhan orang Indonesia terhadap beras menjadi nasi dan nasinya nasi bagus, enak dan sehat tetapi murah dan bukan murahan.
Setiap hari, tanpa khawatir nasi akan membuatnya keracunan. Oh ya, maaf, sebelumnya, perlu juga ditekankan sekali lagi, nasi bagus, enak, sehat, murah dan bukan murahan. Sebab, kalau kita akan bertemu juga dengan jenis nasi yang seperti pembagian ‘raskin’ beras untuk orang miskin, nampaknya bagus tetapi rasanya hampa, baunya pun menyedihkan tetap saja tidak memberikan kesehatan buat kita. Kenyang pun tak tentu arah meski tetap harus mengucap syukur.
Pemahaman tentang ‘teater’ pun jangan terpeleset jauh. Teater yang dimaksud adalah yang agak mengkerucut ke arah pemahaman teater yang verbal. Karena apa pula harus diperjelas? Ya, karena pemahaman ‘teater’ saat ini nyaris sudah berkembang luas. Maksudnya, setiap apa yang dapat ditonton dan dinikmati, itu adalah ‘teater’. Misalnya, seni tari, band, topeng monyet, orang-orang demontrasi di MPR DPR, orang-orang di MPR DPR sana, bahkan kecelakaan di jalan raya.
Memang setiap hari kita menyaksikan ‘teater’ tersebut. Baik dengan kasat mata langsung atau live maupun lewat televisi berbagai pemancar. Di sana, bercampur segala rasa. Rasa musik, rasa tari, rasa berita, rasa monolognya para ulama dan pejabat dan sebagainya.
Ada yang sehat dan ada juga tentu yang harus dicurigai ‘teater’ itu mengandung racun, merasuk dan merusak ke dalam jiwa raga. Ini kadang tak kita sadari, bahwa kita juga punya hak untuk memalingkan mata untuk tak menyaksikannya. Dan kita biarkan diri kita menikmati meski sambil memberungut ngomel yang artinya kita sebenarnya menyadari hidangan itu kurang atau tidak menyenangkan. Atau setelah berselang lama baru merasakan kesakitan dan mencoba mencari asal usul penyakitnya.
Kita pun tidak sendirian, kita yang adalah setengah lebih dari jumlah penduduk negeri Indonesia yang mengalami kesakitan secara evolusi karena telah mengkonsumsi ‘teater’ yang terpeleset lebih lima menit. Dari nelayan di perahunya di tengah laut hingga petani di pondoknya di lereng gunung semua kejangkitan. Kesakitan yang dirasakan bahkan menjendol-jendol di tubuh setiap pribadi dan menyalahkan pribadi lainnya dan tetap keranjingan. Jika kurang puas, setiap pribadi yang mengidap sejenis penyakit akan mencari habitatnya, berkumpul dan terhimpun dalam himpunan besar lalu saling menuding himpunan besar lainnya sebagai penyebar wabah penyakit dan tetap menikmati ‘teater’ terpeleset.
Penyakit yang menyeruak di tubuh negeri ini, sebenarnya sudah sangat fatal. Demam tinggi. Infeksi! Tahu apa yang dirasa, tetapi tak tahu apa pangkalnya, lalu mereka-reka untuk mengobatinya. Kadang dengan mengelus-elus bagian yang sakit, kadang menggeram ingin mengamputasi apa yang dikira bagian yang sakit yang tak dapat disembuhkan. Stress! Ketidak-sadaran, gelisah, koma atau mati suri. Nah, teramat gelisahnya, maka ber’tampin-taruh’ atau ‘gayung-bersambut’ dengan para pedagang penjual obat atau suplemen.
Para pedagang berlomba memberikan hiburan lagi, memasang kaki di negeri ini, dan rakyat negeri ini sadar kalau sedang dirampok, tetapi karena sudah menjadi ‘rampok mania’ maka peristiwa teater perampokan pun bergulir dengan cepat dan lancar.
Segala obat dan suplemen dicoba dan dilahap, tanpa bertanya khasiatnya apa. Secara ilmu jiwa, pabrik obat bin suplemen sudah bisa memastikan, sang pesakitan pasti hanya meruntut kepada jenis rasa sakitnya saja, lalu dipadankan ke daftar khasiat obat bin suplemen. Tanpa memikirkan, obat bin suplemen itu mengapa bisa mengobati segala macam penyakit.
Kekayaan negeri kita terkuras habis untuk membayar segala macam obat bin suplemen itu, dan kita menjadi ketergantungan pada obat dan suplemen. Kita tak merasakan diri kita terbodoh.
Benar-benar kita tak menyadari itu adalah efek dari ‘teater yang terpeleset’. Hal ini tidak terlepas dari belenggu rantai sejarah.
Pada jaman penjajahan, baik di jaman Belanda atau Jepang, sejarah awak perteateran sempat mengganggu jiwa bangsa kita. Rasa takut dan malu sangat menghantui jika ada anggota keluarganya bergerak di perteateran. Di manapun, nasib bangsa yang terpuruk plus bekerja di dunia ‘hiburan’ amat mengancam sebuah kehormatan. Julukan mereka ‘anak main’.
Selain kelompok kesenian mereka menghibur penjajah, tubuh-tubuh pribadi-pribadinya pun harus siap melayani nafsu sex para penjajah. ( maaf, jangan dibaca : hingga kini). Karena itu, sampai beberapa tahun kemarin pun, masih menjadi momok buat orang tua untuk melepas anak mereka bekerja di dunia kesenian khususnya teater. Padahal yang seperti itu bukan hanya terjadi di wilayah kesenian saja, tetapi di bagian rumah tangga yang sopan pun bisa terjadi peristiwa yang mengusik kehormatan. Akibat yang memberikan akibat berikutnya.
Tetapi kepala sakit membayangkan hidupnya gelembung teater ini, seperti mempelajari atom-atom pada pelajaran ilmu kimia. Ion-ion berterbangan tak henti, lepas dari yang satu lalu menempel ke bagian lain.
Saat kita menghendaki teater berkembang dengan baik, memang ada perkembangan yang baik, misalnya, sekolah dan kampus sudah mulai meriah suasana teaternya. Tetapi di bagian lain, kesemarakan yang pernah terasa, menjadi merosot. Banyak kekuatan untuk kepentingan-kepentingan tersendiri saling menyedot. Akibatnya, terjadi pemerosotan mutu teater. Sejaman dengan yang lainnya, semua menjadi serba instan.
Makanan instan memang menyenangkan, tetapi terlalu gurih dan bisa membuat sakit organ tubuh dan jiwa kita, yang merindukan kesegaran.
Teater Instan memberi kesegaran dan kegembiraan juga, tanpa disadari benih ini akan tumbuh kekar dalam jiwa kita seperti tumor atau kanker, Yang pada akhirnya akan memberi rasa sakit juga. Uniknya mereka atau kita tetap suka menonton yang instan ini.
Ibarat benang, nampak benang yang kusut, dengan sekian jumlah ujung benang, sulit mencari ujung yang benar, karena sudah banyak yang terputus-putus. Semakin ditarik semakin merapat kusutnya negeri ini.
nani tandjung 09 nov 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar