BILA CINTA TAK SAMPAI

BILA CINTA TAK SAMPAI
sett dekor luncur BCTS

Jumat, 04 November 2011

KOMITE TEATER DKJ MENGUSIR FFTJ DARI PKJ TIM?


Perlukah Awak Teater di DKI Jakarta bercuriga lebih jauh karena harus melanjutkan pesta Final Festival Teater Jakarta, di luar Pusat Kesenian Jakarta (lagi)? Mengapa tak mencecar bertanya terus dan bertahan? Bukankah kita boleh mempertahankan apa yang telah menjadi hak kita? Bukankah program FTJ sudah menjadi program tahunan pembinaan tetap Pemda DKI Jakarta sudah selama 39 (tiga puluh Sembilan) tahun. Bukankah acara FTJ adalah acara terprogram dan bukan acara dadakan? Bukankah Grup TEATER di Jakarta mempunyai pelindung dan pengayom yang namanya DKJ, Dewan Kesenian Jakarta, sebagai kepanjangan tangan Pemda DKI Jakarta untuk membina kesenian di Jakarta ini? Kemana itu taring DKJ Jakarta?
Terutama mengulang kembali, yang harus maju di depan sebagai pemrakarsa adalah grup-grup teater para finalis itu sendiri untuk jumpa kembali dengan DKJ Komite Teater. Mungkin perlu atau boleh mengundang grup teater se Jakarta, seniman, tokoh masyarakat dan wartawan. Boleh juga tidak mengundang siapa-siapa, maju sendiri (Grup Finalis FTJ) sebab merekalah yang kena imbas dari keputusan atau kebijaksanaan para penentu di DKJ dan PKJ TIM. Ayo berjuang, dan bersikap lebih kritis
Kita bisa menolak. Tolak pemberian uang atau apa saja dari panitia final FTJ sebagai pengganti untuk mencari gedung pentas pelaksanaan FTJ di luar PKJ TIM atau pesangon keluar dari PKJ TIM . (Itu kalau saya). Kita bebas bersikap dan berkehendak.
Kita memang harus berhati-hati, sudah lama banyak orang yang tidak suka FTJ. Jadi kita harus berpikir cerdas dan kritis untuk mencari solusinya. Sudah saatnya kita harus duduk bersama (lagi) dengan DKJ Komite Teater, bermusyawarah mencari jawab dengan kepala dingin dan damai.
Siapa pun dia, kelompok, oknum pribadi, pejabat yang ingin membumi hanguskan FTJ dari DKI Jakarta, adalah termasuk orang yang tidak peka terhadap lingkungan yang mendalam (Psikologi Sosial), bahwa hidup tidak hanya perlu stamina yang prima dan pisik yang sehat. Hidup atau kehidupan juga membutuhkan kesenian guna memperhalus rasa yang dapat menselaraskan hidup menjadi harmonis. Begitu pula, Teater dapat menampung remaja kita memberikan kegiatan seni yang positif untuk mengantar tumbuh kembangnya kedewasaan menuju pencarian jati dirinya.

Kalau saja para pengayom teater di komite DKJ itu mau mempertahankan pentas FTJ di TIM dengan sungguh-sungguh pasti bisa. Sebab FTJ bukan program dadakan, bahkan sudah menjadi program tahunan dan sudah berjalan selama 39 tahun. Atau memang di hapus atau sengaja tidak di programkan oleh Komite Teater DKJ pada saat mengajukan anggaran ke Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Kalau itu yang terjadi maka Komite Teater DKJ memang sengaja ingin membumi hanguskan teater (mengusir FTJ) dari Pusat Kesenian Jakarta-TIM. Apakah ternyata Komite Teater DKJ adalah musuh dalam selimutnya FTJ?

Sama halnya dengan apa yang telah terjadi, yang jadi catatan perteateran di Jakarta, misalnya, padahal DKJ Komite Teater, bisa saja melanjutkan program pentas 7-an setiap bulan, di mana banyak insan teater plus seniman dan masyarakat luas, sudah melihat rasakan perkembangan positifnya dari acara itu. Tapi mengapa terhenti dengan alasan tidak ada pendanaan? Bukankah dengan misalnya, misal, misalnya, dengan menyumbangkan honorarium mereka misalnya lagi, sebanyak 50% (serelanya) untuk grup yang pentas 7-an. Sebab kita ketahui bersama para anggota Komite Teater tersebut secara inkam mereka juga punya sumber lain dari pekerjaan selain sebagai anggota Komite Teater di DKJ. Jadi tidaklah mereka sampai menjadi miskin atau kelaparan kalau mau menyumbang, memperhatikan, berjuang untuk teater..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar