Pentas Foto
Saya pernah memikirkan tentang unsur bunyi
pada Surat-Surat dalam kitab Al Qur'an. Yang dari sana para penyair, pedendang
mendapat inspirasi, menulis dan melantunkan karangan berbentuk pantun, talibun,
gurindam, dan sebagainya. Unsur bunyi, kata demi kata, ayat demi ayat yang
berbunyi menerangkan secara jelas berkronologi.
Setelah Rasullullah wafat, Para Jenius,
menyusun ayat demi ayat, surat demi surat dengan berbagai alasan, batasan,
kriteria, kesamaan, kemiripan, yang ada saja yang bersangkut dari satu ke yang
lainnya, akhirnya membentuk Kitab yang paten. Ada yang berujung bunyi senada,
ada juga yang tidak sama di penghujungnya, saya sebut saja berpelangi, tetapi
tetap cantik. Apalagi kalau pandai membacakan, terasa koma titiknya, sampailah
ke tujuan. Sampailah maksud dan tujuan Para Jenius menyusun ayat-ayat Allah
tentang Allah dan ciptaanNya kepada kita. (tentu saja semua itu juga dibimbing
oleh Allah)
Tetapi pernahkah kita membayangkan,
seandainya Para Sahabat Nabi Muhammad SAW, bukanlah manusia-manusia jenius yang
mampu menghafal atau mencatat? Apa yang terjadi?
Mungkin juga proses penyusunan oleh para
Jenius milik Nabi Muhammad tidak terlalu mulus. Mungkin terjadi interogasi
berulang-ulang memastikan hafalan dan kesaksian. Mungkin yang menginterogasi
bermacam karakter, ada penyabar, ada pemarah, demikian juga Tokoh yang
menghafalkan, sempat kesal, marah, sedih merasa kurang dipercaya karena diminta
mengulang-ulang lalu berhenti. Mungkin Al Qur'an tak sampai ke tangan kita
barangkali.
Demikianlah, perenungan saya tentang
pekerjaan aktor teater dan aktor film bersama seorang sutradara teater atau
sutradara film. Apakah yang terjadi jika sutradara menghadapi para aktor teater
atau aktor film yang lamban penangkapannya, yang tidak jenius? Mungkin proses
latihan naskah teater tersebut tak pernah selesai dan tak pernah sampai kepada
target keartistikan sang sutradara, maka bisa jadi naskah tak pernah
dipentaskan. Sekali pun dipentaskan, yang menyaksikan pentas itu tentu akan
"sakit gigi".
Atau pada proses pengambilan gambar film akan
mengalami break, aktornya ngambek, atau sutradaranya memaki-maki crew bahkan
produser yang menggajinya. Atau pengambilan dilakukan sampai tuntas tetapi film
tak pernah ditayangkan karena film tersebut tidak lolos gerbang cek n recek. Tidak layak tayang.
Juga kalau kita melihat dari sisi aktor, aktor
yang sudah kawakan banyak mengunyah asam garam pemeranan mendapat nasib malang berhadapan
dengan sutradara loyo, apa yang terjadi? Sutradara rajin tetapi tak punya gagasan,
atau sutradara kaya gagasan tetapi menyebalkan, dan banyak lagi kendala-kendala
lapangan. Mungkin kalau bukan karena perjanjian kontrak kerja menyangkut hukum
sebab dan akibat, sutradara bermasalah itu sudah ditinggalkan aktor-aktornya
atau sebaliknya.
Pendek kata, untuk menghasilkan yang
memuaskan setiap kerja sangat membutuhkan kesungguhan, kerja sama, saling
mengerti dan bahkan berusaha sekuat-kuatnya untuk saling memahami antara ke dua
belah pihak. Jika tidak, matilah pasukan sebelum berperang. Ini akan sangat
menyulitkan banyak orang. Terutama pihak Produser yang sudah mengeluarkan modal
serta pula mempublikasikan proyeknya ke delapan penjuru angin dan ditungggu
oleh konsumen.
Sungguh, saya baru saja mencoba memahami arti
dari kata seperti, Editor juga Kurator. Yang selama ini, saya hanya mengerti
seorang Editor hanya memeriksa kata yang berhuruf salah, atau pemakaian kata
yang salah, tetapi ternyata seorang Editor pada sebuah penerbitan majalah
bertanggungjawab pada keutuhan isi majalah tersebut sesuai dengan visi. Editor
pada suntingan film, menyambung tiap adegan agar film berjalan sesuai dengan cerita.
Sementara seorang Kurator pada sebuah pameran
seni rupa semisal pada pameran lukisan atau pameran foto hanya berfungsi memilih-milih lukisan atau
foto yang akan dipamerkan, yang saya kira, ternyata salah. Ternyata Kurator juga
bertindak seperti seorang sutradara teater atau sutradara film. Pendekatan
karakter pada manusia sebagai pengkarya juga dilakukan selain meneliti karakter
lukisan atau foto.
Sebagaimana proses kerja pada persiapan
pentas teater atau pengambilan gambar pada kerja produksi film, Kurator, perlu
melakukan pendekatan kepada senimannya, kemudian kepada karyanya. Pada pameran
seni rupa, naskah berbentuk tema tetap diperlukan sebagai tiang atau acuan
maksud dan tujuan pameran. Sehingga akan terbentuk benang merah yang mengikat
satu karya ke karya yang lain dan menyuguhkan pameran yang mempunyai pesan.
Ternyata proses pengkurasian, nyaris sama
dengan proses latihan teater atau film. Apa yang ditangkap oleh sutradara pada
proses latihan pada persiapan teater atau pengambilan gambar pada film, jika
belum tepat sesuai dengan takaran yang tepat, sutradara perlu dan berhak
memperbaiki dengan cara menganjurkannya, dan hal ini tentu saja terjadi pada
latihan teater dan film. Begitu pula, saat Kurator melihat sebuah karya yang
akan dipamerkan, beranggapan karya itu termasuk dalam tema pameran, karya itu
akan dimasukkan kemudian dianjurkan untuk menambah atau mengurangi aksen-aksen
karya seni rupa tersebut jika perlu.
Tak kurang kejeliannya, Kurator juga bertugas
menyemangati seniman untuk lebih berkarakter dalam berkarya agar karya-karya mempunyai
kesinambungan dari satu ke karya yang lain.
Lebih unik lagi, jika mengkurasi pameran bersama
beberapa orang dengan beberapa karya. Kurator
harus tegas, layaknya sutradara teater atau film. Sutradara yang berhasil
membuat karya yang keren, biasanya agak bawel dan kejam, seperti tidak
menghormati kebebasan berkesenian atau berekspresi. Sebagaimana sutradara yang
terus menerus menuntut perbaikan aktornya jika mengucapkan kata atau kalimat
yang masih kurang tepat sesuai dengan keutuhan cerita, yang biasanya menyangkut
takaran emosi, diksi, artikulasi dan lainnya, seorang Kurator juga berhak memberi
saran kepada seniman yang dikurasikannya untuk selalu memperbaiki karyanya agar
tidak “cemplang” diantara karya lainnya. Benda seni rupa bagi senirupawan
adalah sebuah ekspresi seni yang sama dengan seni pemeranan bagi seorang
pemeran.
Sebuah pameran memerlukan Kurator yang rajin,
cekatan, jenius serta kaya gagasan dan bukan sekedar menasihati selain
kehadiran aktor-aktor yang berenerji setingkat yang mampu membaca tema.,
sebagaimana seorang sutradara bersama aktor-aktor yang handal.
Sungguh, saya baru “engeh” setelah bersiap
memasuki era Pameran Foto Bersama “baca merah putih”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar