BILA CINTA TAK SAMPAI

BILA CINTA TAK SAMPAI
sett dekor luncur BCTS

Selasa, 13 Desember 2011

Kandang Macan Bagi Seniman Muda (3)

ONLINE


Rabu 27 Agustus 2008, Jam: 9:44:00

Naniel masih berusia 22 tahun ketika tiba di kompleks TIM, tahun 1972. Dia mentas di teater tertutup bersama rombongannya, Bengkel Muda Surabaya. Pentas yang tak terlupakan selama hidupnya. “Pulang dari TIM, di kampung saya jadi dewa, “ katanya yang kemudian beralih ke dunia musik, bergabung dengan Setiawan Jody dan Iwan Fals dalam Grup Swami.

Menurut pencipta lagu Bento ini, mentas di TIM jelas memberikan gengsi kepada seniman di tahun 1970-an. Kalau sudah main di TIM artinya sudah sampai ke puncak. “Apalagi buat seniman muda daerah seperti saya, “ katanya.

Sukses mentas di TIM mengantarkannya hijrah ke ibukota, dan tetap menjadi seniman sebagaimana seniornya, dulu. Dia awalnya, bergabung dengan Ggrup Leo Kristi. Namanya melesat ketika bergabung dengan WS Rendra, Iwan Fals, dan Jody. Sejumlah lagu lahir dari tangannya.

Menurut Naniel, teater sebagai seni kering yang pamornya merosot di tengah generasi sinetron. Karena itu perlu dijaga iklim kreatif dan sarananya. Pemerintah seharusnya terus menyubsidi dan mendukung material dan moral. Sebab, bibit-bibit muda teater tak pernah surut dari waktu ke waktu.

“Di Bulungan sekarang inipun teman-teman yang mengelola teater masih rajin berlatih dan grup teater masih puluhan, “ katanya.

Bom teater di tahun 1970-an melahirkan gelanggang-gelanggang di lima wilayah ibukota. Setiap wilayah memiliki grup teaternya sendiri yang kemudian berkompetisi setiap tahun dalam forum Festival Teater. Dari sanalah regenerasi teater berlangsung.

Selain Teater Koma yang melegenda hingga kini, dari TIM lahir pula grup handal lainnya seperti Teater Kubur (Dindon), Teater SAE (Budi S Otong), Teater Kail (Sutarno SK), Teater Luka (Bambang Dwi). Grup generasi pertama dan generasi kedua itulah yang mewarnai pentas di TIM pada dua dekade kemudian.

KANDANG MACAN
“Masuk TIM itu auranya beda. Buat seniman-seniman muda rasanya serem. Saya ingat, waktu itu rasanya seperti masuk kandang macan, “ kata Jose Rizal Manua, 54, anggota Bengkel Teater Rendra, yang kini memimpin Teater Tanah Air di TIM, dan mengawali masuk ke TIM tahun 1975.

“Masih kebayang sampai sekarang, di warung belakang, Mas Sjumandjaya ngobrol bareng Teguh Karya. Putu Wijaya latihan di sebelah sini, Arifin C. Noor main di sana, Bengkel Teater di sana, “ katanya menunjuk ke arah belakang Gedung Graha Balai Budaya, TIM, di sebelah toko bukunya.

Suasana berteater di TIM pada masa 1970-an, bagi seniman yang telah mentas keliling dunia, itu sangat menggairahkan. “Teman-teman latihannya semangat karena bersaing kreatifitas dan mentornya nama-nama besar, “ tambahnya.

Yang menggairahkan di TIM bukan hanya pentas teaternya, yang menampilkan karya klasik seperti Hamlet, Machbeth, King Lear, melainkan juga program pelatihan (workshop) alih pengetahuan dengan pakar seniman asing, diskusi-diskusi yang memperkaya wawasan. Semua itu biasanya berlangsung hangat di Teater Tertutup.

Jose Rizal Manua masih ingat komentar pengamat seni Singapura saat berceramah di TIM pada masa itu. “Jakarta sudah maju dua puluh tahun di dibanding kami, “ kata Joze Rizal mengulang perkataan pengamat seni dari negeri seberang itu.

Entah apa yang terjadi jika pengamat itu balik lagi dan melihat kondisi TIM sekarang ini? (Bersambung/t)

Dicopas dari Harian Pos Kota Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar